Mengenal Kecerdasan Emosi Remaja

"Makalah tentang Emosi"

Masa remaja dikenal dengan masa strorm and, yaitu terjadi pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan secara psikis yang bervariasi. Pada masa "remaja" (usia 12 sampai dengan 21tahun) terdapat berapa fase (Monks, 1985), yaitu fase remaja awal (usia 12 sampai 15 tahun), remaja petengahan (15 sampai 18 tahun), remaja akhir (usia 18 sampai 21 tahun).
Di antaranya juga terdapat fase pubertas yang merupakan fase yang sangat singkat dan terkadang menjadi masalah tersendiri bagi remaja dalam menghadapinya. Fase pubertas ini berkisar 11 atau 12 tahun sampai dengan 16 tahun (Hurlock, 1992) dan setiap individu memiliki variasi tersendiri, pada fase itu, remaja mengalami perubahan dalam sistem kerja hormon dalam tubuhnya dan hal ini memberi dampak pada bentuk fisik (terutama ogan-organ seksual) dan psikis, terutama "emosi". Masa pubertas berada tumpang tindih antara masa anak dan masa remaja, sehingga adanya kesulitan pada masa tersebut dapat enyebabkan remaja mengalami kesulitan menghadapi fase-fase perkembangan.
Adapun Cooper dan sawaf (1998) mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi, kecerdasan emosi menuntut pemilikan perasaan, untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan terpat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.
a. Mengenali emosi diri
Kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional, pada tahap ini diperlukan adanya pemantauan perasaan dari waktu ke waktu agar timbul wawasan psikologis dan pemahaman tentang diri.
b. Mengelola emosi
Mengelola emosi berarti menangani perasaan agar terungkap dangan tepat. Hal ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung pada kesadaran diri. Emosi dikatakan berhasil dikelola apabila mampu menghibur diri ketika ditimpa kesedihan.
Kemampuan seseorang memotivasi diri ditelesuri malalui hal-hal berikut: a) cara mengendalikan dorongan hati, b) derajat kecerdasan yang berpengaruh terhadap unjuk rasa seseorang, c) kekuatan berfikir positif, d) optimisme, dan e) keadaan flow (mengikuti keadaan)
c. Menghadapi emosi orang lain
Empati atau mengenal emosi seseorang di bangun berdasarkan kesadaran diri. Jika seseorang terbuka pada emosi sendiri, ia akan terampil membaca perasaan orang lain.
d. Membina hubungan dengan orang lain
Seni dalam membina hubungan dengan orang lain merupakan keterampilan sosial yang mendukung keberhasilan dalam pergaulan orang lain. Tanpa memiliki keterampilan, seseorang akan mengalami kesulitan dalam pergaulan sosial.
6. Implikasi Pembangunan Emosi Remaja terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
Sehubungan dengan emosi remaja yang cenderung benyak melamun dan sulit diterka maka, satu-satunya hal yang dapat guru lakukan adalah memperlakukan siswa seperti orang dewasa yang penuh dengan rasa tenggung jawab moral. Guru dapat membantu mereka yang bertingkah laku kasar dengan jalan mencapai keberhasilan dalam perkerjaan atau tugas-tugas sekolah, sehingga mereka menjadi lebih mudah ditangani, salah satu cara yang mendasar adalah dengan mendorong meraka untuk bersaing dengan diri sendiri.
Untuk menunjukan kematangannya, remaja terutama laki-laki sering terdorong untuk menentang otoritas orang dewasa, seseorang guru SMP atau SMA akan dianggap dalam posisi otoritas. Sehingga merupakan target dari pemberontakan mereka. Cara yang paling cepat untuk menghadapi pemberontakan para remaja adalah: 1) mencoba untuk mengerti mereka, dan 2 melakukan segala sesuatu untuk membantu mereka agar berprestasi dalam bidang ilmu yang diajarkan. Jika para guru menyadari untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut pada diri siswa walaupun dalam cara-cara yang amat terbatas, pemberontakan dan sikap permusuhan siswa di kelas akan dapat dikurangi.
Seorang siswa yang merasa bingung terhadap kondisi tersebut mungkin merasa perlu menceritakan penderitaannya, termasuk rahasia-rahasia pribadinya kepada orang lain. Oleh karena itu, seseorang guru pembimbing hendaknya tampil berfungsi dan bersikap seperti pendengar yang simpatik.
Mengenal Kecerdasan Emosi Remaja

0 komentar:

Post a Comment