Perkembangan Intelek, Sosial, dan Bahasa

A. Perkembangan Intelek
1. Pengertian intelek dan inteligensi
Menurut English & English dalam bukunya: "A Comprehensive Dietionary off Psychological and Psychoanalitical Terms", istilah intelect berarti antara lain: (1) kekuatan mental di mana manusia dapat berpikir; (2) suatu rumpun nama untuk proses kognitif terutama untuk aktivitas yang berkenaan dengan berpikir (misalnya menghubungkan, menimbang, dan memahami); (3) kecakapan, terutama kecakapan yang tinggi untuk berpikir; (bandingkan dengan intelligence. Intelligence = intelellect).
Menurut kamus Webster New World Dictionary of the American Language, istilah intellect berarti :

1) kecakapan untuk berpikir, mengamati atau mengerti; kecakapan untuk mengamati hubungan-hubungan, perbedaan-perbedaan, dan sebagainya. Dengan demikian kecakapan berbeda dari kemauan dan perasaan.
2) kecakapan mental yang besar, sangat intelligence
3) pikiran atau inteligensi
Berdasarkan pengertian di atas, berikut ini diuraikan pengertian inteligensi, karena istilah iatelek berkaitan dengan kemampuan berpikir atau inteligensi.
Istilah inteligensi telah banyak digunakan, terutama di dalam bidang psikologi dan pendidikan, namun secara definitif istilah itu tidak mudah dirumuskan. Banyak rumusan tentang inteligensi, seperti yang dikemukakan oleh Singgih Gunarsa dalam bukunya Psikologi Remaja (1991), ia mengajukan beberapa rumus inteligensi sebagai berikut :
1) Inteligensi merupakan suatu kumpulan kemampuan seseorang yang memungkinkan memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkan ilmu tersebut dalam hubungannya dengan lingkungan dan masalah-masalah yang timbul.
2) Inteligensi adalah suatu bentuk tingkah laku tertentu yang tampil dalam kelancaran tingkah laku.
3) Inteligensi meliputi pengalaman-pengalaman dan kemampuan bertambahnya pengertian dan tingkah laku dengan pola-pola baru dan mempergunakannya secara efektif.
4) William Stern mengemukakan bahwa inteligensi merupakan suatu untuk menyesuaikan diri pada tuntutan baru dibantu dengan penggunaan fungsi berpikir.
5) Binet berpendapat bahwa inteligensi merupakan kemampuan memperoleh melalui keturunan, kemampuan yang diwarisi dan dimiliki sejak lahir dan tidak terlalu banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Dalam batas-batas tertentu lingkungan turut berperan dalam pembentukan kemampuan inteligensi.

Wechler 1958 merumuskan inteligensi sebagai "keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta kemampuan mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif."
Rumusan-rumusan di atas mengungkapkan bahwa makna inteligensi mengandung unsur-unsur yang sama dengan yang dimaksudkan dalam istilah intelek, yang menggambarkan kemampuan seseorang dalam berpikir dan/atau bertindak. Berhubung dengan masalah kemampuan itu, para ahli psikologi telah mengembangkan berbagai alat ukur (tes inteligensi) untuk menyatakan tingkat kemampuan berpikir atau inteligensi seseorang. Salah satu tes inteligensi yang terkenal adalah tes yang dikembangkan oleh Alferd Binet (1857 - 1911). Binet, seorang ahli ilmu jiwa (Psycholog) perancis, merintis mengembangkan tes inteligensi yang agak umum. Tes Binet ini disempurnakan oleh Theodore Simon, sehingga tes tersebut lerkenal dengan sebutan "tes Binet Simon". Hasil tes inteligensi dinyatakan dalam angka, yang menggambarkan perbandingan antara umur kemampuan mental atau kecerdasan (mental age disingkat MA) dan umur kalender (chronological age disingkat CA). Pengukuran tingkat inteligensi dalam bentuk perbandingan ini diajukan oleh Williem Stern (1871-1938), seorang ahli ilmu jiwa berkebangsaan Jerman, dengan sebutan Intelligence Quotient yang disingkat IQ artinya perbandingan kecerdasan. Rumus perhitungan yang diajukan adalah:
IQ = x 1004
Apabila tes tersebut diberikan kepada anak umur tertentu dan ia dapat menjawab dengan betul seluruhnya, berarti umur kecerdasannya (MA) sama dengan umur kalender (CA), maka nilai IQ yang didapat anak itu dengan 100. Nilai ini menggambarkan kemampuan seorang anak yang normal. Anak yang berumur, misalnya 6 tahun hanya dapat menjawab tes untuk anak umur S tahun, akan didapati nilai IQ di bawah 100 dan ia dinyatakan sebagai anak berkemampuan di bawah normal; sebaliknya bagi anak umur S tahun tetapi telah dapat menjawab dengan benar tes yang diperuntukkan bagi anak umur 6 tahun, maka nilai IQ anak itu di atas 100, dan ia dikatakan sebagai anak yang cerdas.
Pada usia remaja IQ dihitung dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan yang terdiri dari berbagai soal (hitungan, kata-kata, gambar-gambar, dan semacamnya) dan menghitung berapa banyaknya pertanyaan' yang dapat dijawab dengan benar kemudian membandingkannya dengan sebuah daftar (yang dibuat berdasarkan penelitian yang terpercaya). Dengan cara itu didapatkan nilai IQ orang yang bersangkutan. Untuk anak-anak cara menghitung IQ adalah dengan menyuruh anak untuk melakukan pekerjaan tertentu dan menjawab pertanyaan tertentu (misalnya menghitung sampai 10 atau 100, menyebut nama-nama hari atau bulan, membuka pintu dan menutupnya kembali, dan lain-lain). Jumlah pekerjaan yang biasa dilakukan anak kemudian dicocokkan dengan suatu daftar untuk mengetahui umur mental (MA) anak. Makin banyak yang bisa dijawab atau dikerjakan anak dengan betul, makin tinggi usia mentalnya. Dengan menggunakan rumus di atas, maka dapat diketemukan nilai IQ anak.

2. Hubungan antara intelek dan tingkah laku
Kemampuan berpikir abstrak menunjukkan perhatian seseorang kepada; kejadian dan peristiwa yang tidak konkret seperti misalnya pilihan pekerjaan, corak hidup bermasyarakat, pilihan pasangan hidup yang sebenarnya masih jauh di depannya, dan lain-lain. Bagi remaja, corak perilaku pribadinya di hari depan dan corak tingkah lakunya sekarang dan berbeda. Kemampuan abstraksi akan berperan dalam perkembangan kepribadiannya.
Mereka dapat memikirkan perihal diri sendiri. Pemikiran itu terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah ke penilaian diri dan kritik diri. Hasil penilaian tentang dirinya tidak selalu diketahui orang lain, bahkan sering terlihat usaha seseorang untuk menyembunyikan atau merahasiakannya. Dengan refleksi diri, hubungan dengan situasi yang akan datang nyata dalam pikirannya, perihal keadaan diri yang tercermin sebagai suatu kemungkinan bentuk kelak di kemudian hari.
Pikiran remaja sering dipengaruhi oleh ide-ide dan teori-teori yang menyebabkan sikap kritis terhadap situasi dan orang tua. Setiap pendapat orang tua dibandingkan dengan teori yang diikuti atau diharapkan. Sikap ini juga ditunjukkan dalam hal-hal yang sudah umum baginya pada masa sebelumnya, sehingga tata cara, adat istiadat yang berlaku di lingkungan keluarga sering terasa terjadi/ada pertentangan dengan sikap kritis yang pada perilakunya.
Kemampuan abstraksi menimbulkan mempermasalahkan kenyataan perisitwa-peristiwa dengan keadaan bagaimana yang semestinya menurut alam pikirannya. Situasi ini (yang diakibatkan kemampuan abstraksi) akhirnya dapat menimbulkan perasaan tidak puas dan putus asa.
Di samping itu pengaruh egosentris masih terlihat pada pikirannya.
1) Cita-cita dan idealisme yang baik, terlalu menitikberatkan pikiran sendiri tanpa memikirkan akibat lebih jauh dan tanpa memperhitungkan kesulitan praktis yang mungkin tidak berhasil menyelesaikan persoalan.
2) Kemampuan berpikir dengan pendapat sendiri belum disertai pendapat orang lain dalam penilaiannya. Masih sulit membedakan pokok perhatian orang lain daripada tujuan perhatian diri sendiri. Pandangan dan penilaian diri sendiri dianggap sama dengan pandangan orang lain mengenai dirinya.

Egosentrisme inilah yang menyebabkan "kekakuan" para remaja dalam cara berpikir maupun bertingkah laku. Persoalan yang timbul pada masa remaja adalah banyak bertalian dengan perkembangan fisik yang dirasakan mencekam dirinya, karena disangkanya orang lain sepikiran dan ikut tidak puas mengenai penampilan dirinya. Hal ini menimbulkan perasaan "seperti" selalu diamati orang lain, perasaan malu dan membatasi gerak-geriknya. Akibat dari hal ini akan terlihat pada tingkah laku yang kaku.
Egosentrisme dapat menimbulkan reaksi lain, di mana remaja itu justru melebih-lebihkan diri dalam penilaian diri sendiri. Mereka merasa dirinya "ampuh” atau "hebat" sehingga berani menantang malapetaka dan menceburkan diri dalam aktivitas yang acapkali kurang dipersiapkan dan justru berbahaya. Misalnya seorang anak yang menghajar pencopet di tempat yang ramai, tanpa memperhitungkan risiko yang mungkin berupa perlawanan oleh pencopet tersebut.
Melalui banyak pengalaman dan penghayatan kenyataan serta salalu menghadapi pendapat orang lain, maka egosentrisme makin berkurang. Pada akhirnya remaja pengaruh egosentrisitas sudah sedemikian kecilnya, sehingga berarti remaja sudah dapat berpikir abstrak dengan mengikutsertakan pendapat dan pandangan orang lain.

3. Karakteristik perkembangan inlelek remaja
Inteligensi pada masa remaja tidak mudah diukur, karena tidak mudah terlihat perubahan kecepatan perkembangan kemampuan tersebut. Pada umumnya 3-4 tahun pertama menunjukkan perkembangan kemampuan yang hebat, selanjutnya akan terjadi perkembangan yang teratur. Pada masa remaja kemampuan untuk mengatasi masalah yang majemuk bertambah. Pada awal masa remaja, kira-kira pada umur 12 tahun, anak berada pada masa yang disebut masa operasi formal (berpikir abstrak). Pada masa ini remaja telah berpikir dengan mepertimbangkan hal yang "mungkin" di samping hal yang nyata (real) (Gleitman, 1986:475 -476). Pada usia remaja ini anak sudah dapat berpikir abstrak dan hipotetik. Berpikir operasional formal setidak-tidaknya mempunyai dua sifat yang penting, yaitu:
1) Sifat deduktif hipotetis
Dalam menyelesaikan suatu masalah, seorang remaja akan mengawalinya dengan pemikiran teoritik. Ia menganalisis masalah dan mengajukan cara-cara penyelesaian hipotesis yang mungkin. Pada dasarnya pengajuan hipotesis itu menggunakan cara berpikir induktif di samping deduktif, oleh sebab itu sifat berpikir ini sebenarnya mencakup deduktif-induktif-hipotesis. Atas dasar analisis yang ia lakukan, ia dapat membuat suatu strategi penyelesaian. Analisis teoritik ini dapat dilakukan secara verbal. Anak lalu mengajukan pendapati pendapat atau prediksi tertentu, yang juga disebut proposisi-proposisi, kemudian mencari hubungan antara proposisi yang berbeda-beda tadi. Berhubungan dengan itu maka berpikir operasional juga disebut proposisional.
Sifat ini merupakan kelengkapan sifat yang pertama dan berhubungan dengan cara bagaimana melakukan analisis. Misalnya anak diberi lima buah gelas berisi cairan tertentu. Suatu kombinasi cairan ini membuat cairan tadi berubah warna. Anak diminta untuk mencari kombinasi ini.
Anak yang berpikir operasional formal lebih dahulu secara teoretik membuat matriksnya mengenai segala macam kombinasi yang mungkin, dan secara sistematik mencoba mengisi setiap sel matriks tersebut secara empriti. mencari penyelesaian yang betul, maka ia Bila ia mencapai penyelesaian yang betul, maka ia juga akan segera dapat mereproduksinya.
Jadi dengan berpikir operasional formal memungkinkan orang untuk mempunyai tingkah laku problem solving yang betul-betul ilmiah, serta memungkinkan untuk mengadakan pengujian hipotesis dengan variabel-t variabel tergantung yang mungkin ada. Berpikir abstrak atau formal operation ini merupakan cara berpikir yang bertalian dengan hal-hal yang idak dilihat dan kejadian-kejadian yang tidak langsung dihayati.
Cara berpikir terlepas dari tempat dan waktu, dengan cara hipotesis, Deduktif yang sistematis, tidak selalu dicapai oleh semua remaja. Tercapai atau tidak tercapainya cara berpikir ini tergantung juga pada tingkat ititeligensi dan kebudayaan sekitarnya. Seorang remaja yang dengan semampuan inteligensi terletak di bawah normal atau nilai IQ kurang dari 50%, tidak akan mencapai taraf berpikir yang abstrak.
Seorang remaja dengan kemampuan berpikir normal, tetapi hidup dalam lingkungan atau kebudayaan yang tidak merangsang cara berpikir, misalnya tidak adanya kesempatan untuk menambah pengetahuan, pergi sekolah tetapi tidak adanya fasilitas yang dibutuhkan, maka remaja itu sampai dewasa pun tidak akan sampai pada taraf berpikir abstrak.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan intelek
Sejauh manakah perkembangan inteligensi dipengaruhi oleh faktor-faktor dasar, dan sejauh mana dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan? bagaimanakah sifat inteligensi itu? Apakah inteligensi merupakan faktor bakat? Pandangan pertama yang mengakui bahwa inteligensi itu adalah faktor bakat, dinamakan aliran Nativisme, sedangkan pandangan kedua yang menyatakan bahwa inteligensi itu dapat dipengaruhi oleh lingkungan dinamakan aliran Empirisme.
Dalam hubungannya dengan perkembangan inteligensi/kemampuan berpikir remaja, ada yang berpandangan bahwa adalah keliru jika IQ dianggap bisa ditingkatkan, yang walaupun perkembangan IQ dipengaruhi antara lain oleh faktor-faktor lingkungan. Menurut Andi Mapiare (1982: 80) hal-hal yang mempengaruhi perkembangan intelek itu antara lain:
1. Bertambahnya informasi yang disimpan (dalam otak) seseorang sehingga ia mampu berpikir reflektif.
2. Banyaknya pengalaman dan latihan-latihan memecahkan masalah sehingga seseorang dapat berpikir proporsional.
3. Adanya kebebasan berpikir, menimbulkan keberanian seseorang dalam menyusun hipotesis-hipotesis yang radikal, kebebasan menjajaki masalah secara keseluruhan, dan menunjang keberanian anak memecahkan masalah dan menarik kesimpulan yang baru dan benar.
Tiga kondisi di atas sesuai dengan dasar-dasar teori Piaget mengenai perkembangan inteligensi :
1) Fungsi inteligensi termasuk proses adaptasi yang bersifat biologis.
2) Bertambahnya usia menyebabkan berkembangnya struktur inteligensi baru, sehingga pengaruh pula terhadap terjadinya perubahan kualitatif.
Wechster berpendapat; bahwa inteligensi keseluruhan seseorang tidak dapat diukur. IQ adalah suatu nilai yang hanya dapat ditentukan secara kira-kira karena selalu dapat terjadi perubahan-perubahan berdasarkan faktor-faktor individual dan situasional.
Mengenai konstan tidaknya inteligensi dalam waktu akhir-akhir ini masih merupakan diskusi yang terbuka. Dari hasil penelitian yang bemacam-macarn dapat dikemukakan bahwa inteligensi itu sama sekali tidak sekonstan yang diduga semula. Penelitian longitudinal selama 40 tahun dalam Instituts menurut McCall, dkk.(1973) menunjukkan adanya pertambahan rata-rata IQ sebanyak 28 butiran antara usia 5 tahun yang berarti kira-kira sama dengan usia pendidikan di sekolah atau di pekerjaan. Selanjutnya mukan bahwa perubahan-perubahan intra-individual dalam nilai IQ merupakan hal yang umum (biasa) daripada perkecualian.

5. Peranan Pengalaman Dari Sekolah Terhadap Inteligensi
Sejauh mana pengalaman sekolah meningkatkan inteligensi anak? penelitian tentang pengaruh Taman Indria terhadap IQ telah dilaporkan oleh Wellman (1945) berdasarkan 50 kasus studi. Rata-rata tingkat IQ asal mereka adalah di atas 110. Mereka yang mengalami prasekolah sebelum sekolah dasar, menunjukkan perbedaan kemajuan atau "gained" dalam rata-rata IQ-nya lebih besar daripada mereka yang tidak mengalami prasekolah. Perbedaan kemajuan nilai rata-rata IQ bagi mereka yang baru satu tahun saja belajar (bersekolah pada prasekolah) adalah sebesar 5,4 skala IQ per seorang siswa. Angka ini jauh lebih tinggi daripada siswa-iswa yang tidak memasuki prasekolah sebelumnya, yaitu menunjukkan rata-rata hanya mengalami perubahan nilai IQ sebesar 0,5 skate IQ pereorang siswa. Perubahan ini akan menjadi lebih tinggi lagi bila mereka lebih lama bersekolah pada prasekolah. Siswa-siswa yang selama dua atau tiga tahun belajar di prasekolah, menunjukkan kenaikan perkembangan inteligensinya masing-masing sebesar 10,5 skala IQ. Dengan demikian pengalaman yang diperoleh di sekolah menyumbang secara positif terhadap peningkatan IQ anak.


6. Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan inteligensi
Pengaruh belajar dalam arti lingkungan terhadap perkembangan inteligensi cukup besar seperti telah dibuktikan berbagai korelasi IQ yang juga menggambarkan bagaimana peranan belajar terhadap perkembangan inteligensi (Rochman Natawijaya dan M. Musa, 1992 : 45).

0 komentar:

Post a Comment