Pertumbuhan dan Perkembangan

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dengan mempelajari perkembangan peserta didik, kita akan memperoleh beberapa keuntungan. Diantranya kita akan mempunyai ekspresi yang nyata tentang anak dan remaja. Dari psikologi perkembangan akan diketahu pada umur berpa anak mulai mampu berfikir abstrak. Hal-hal itu memrupakan gambaran umum yang terjadi pada kebanyakan anak, disamping itu akan dikatahui pula pada berapa anak tertentu akan memperoleh keterampilan dan emosi khusus.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja hal yang mendari pentinya mengetahui pertumbuhan dan perkembangan peserta didik.
2. Faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan?
3. Apa saja pola perkembangan efektif pada manusia?
4. Apa saja pola perkembangan efektif pada manusia?
5. Apa sajakah pola perkembangan kognitif dari Jean Piaget?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui hal-hal penting yang mendari pentinya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik.
2. Mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan.
3. Mengetahu fase-fase perkembangan
4. Mengetahui pola pekembangan efektif pada manusia
5. Mengetahui pola perkembangan kognitif dari Jean Piaget


PEMBAHASAN

2.1 Hal yang mendasari pentingnya pertumbuhan dan perkembangan


Berikut ini adalah beberapa hal yang mendasari pentingnya mengetahui pertumbuhan perkembangan peserta didik.

1. Masa Perkembangan yang Cepat
Pada anak terjadi pertumbuhan-pertumbuhan yang cepat dibandingkan dengan perubahan-perubahan yang dialami spesies lain. Perubahan fisik, misalnya pada tahun pertama lebih cepat dari pada tahun-tahun berikutnya. Hal yang sama terjadi juga pada perubahan yang menyangkut interaksi sosial, perolehan dan penggunaan bahasa, kemampuan mengingat serta berbagai fungsi lainnya.

2. Pengaruh yang Lama
Alasan lainnya mengapa mempelajari anak ialah bahwa peristiwa-peristiwa dan pengalaman-pengalaman pada tahun-tahun awal menunjukkan pengaruh yang lama dan kuat terhadap perkembangan individu pada masa-masa berikutnya. Kebanyakan ahli teori psikologi berpendapat bahwa apa yang terjadi hari ini sangat banyak ditentukan oleh perkembangan kita sebagai anak.

3. Proses yang Kompleks
Sebagai peneliti yang mencoba memahami perilaku orang dewasa yang kompleks, berpendapat bahwa mengkaji tentang bagaimana perilaku itu pada saat masih sederhana akan sangat berguna. Misalnya ialah bahwa kebanyakan orang dapat membuat kalimat yang panjang dan dapat mengerti oleh orang lain. Manusia mampu berkomunikasi dari cata yang sederhana sampai yang kompleks karena bahasa yang dipergunakan mengikuti aturan-aturan tertentu. Tetapi menentukan apa aturan itu dan bagaimana menggunakan adalah sulit. Suatu pendekatan terhadap masalah ini adalah dengan mempelajari p'roses kemampuan berbahasa. Anak membentuk kalimat yang hanya terdiri atas satu atau dua kata, kalimat itu muncul dengan mengikuti aturan yang diajarkan orang dewasa. Dengan mengkaji kalimat pertama tersebut para peneliti bahasa bertambah wawasannya tentang mekanisme cara berbicara orang dewasa yang lebih kompleks.

4. Nilai yang Diterapkan
Kebanyakan ahli psikologi perkembangan melakukan penelitiannya dalam laboratorium dan sering kali mengkaji pertanyaan-pertanyaan teoritis berdasarkan hasil penelitiannya. Praluk penelitian ini kadang-kadang dapat diterapkan di dunia nyata. Misabya penelitian tentang tahap awal perkembangan sosial yang secara rekwan berkaitan dengan orang tua tentang peranannya dalam kehidupannya selbari-hari, percobaan tentang strategi pemecahan masalah pada anak alan memberikan informasi berharga mengenai metode mengajar yang bak Hasil dari penelitian atau pengkajian teoritis dapat secara langsung maa tidak dapat mempengaruhi pola pendidikan atau pengajaran.

5. Masalah yang Menarik
Anak merupakan makhluk yang mengagumkan dan penuh teka-teki serta menarik untuk dikaji. Kemudahan amk umur dua tahun untuk mempelajari bahasa ibunya dan kreativitas amk untuk bermain dengan temannya merupakan dua hal dari karalkristik anak yang sedang berkembang. Misalnya banyak lagi hal-hal ymg bdrkaitan dengan perkembangan anak yang merupakan misteri dan menark Dalam hal ini ilmu pengetahuan lebih banyak menjumpai pertanyaan-pertanyam dari pada jawabannya.

2.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan
Sejak awal tahun .1980-an semkin diakuinya pengaruh keturunan (genetik) terhadap perbedaan individiL Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian perilaku genetik yang meadnkung pentingnya pengaruh keturunan menunjukkan tentang pentingnya pengaruh lingkungan. Perilaku yang kompleks yang menarik minat para a61i psikologi (misalnya temperamen, kecerdasan dan kepribadian) meodipat pengaruh yang sama kuatnya baik dari faktor-faktor lingkungan maipin kdurunan (genetik).
Aspek apa sajakah yang mempeogmuhi faktor genetik? Menurut Santrok (1992), banyak aspek yang dipengwuhi faktor genetik. Para ahli genetik menaruh minat yang sangat besar metuk mengetahui dengan pasti tentang variasi karakteristik yang dapat dipagaruhi oleh faktor genetik. Kecerdasan dan temperamen merupakan aspek-aspek yang paling banyak ditelaah yang dalam perkembangannya dipengaruhi oleh keturunan.
Arthur Jensen (1969) mengemukakan pendapatnya bahwa kecerdasan itu diwariskan (diturunkan). Ia juga mengemukakan bahwa lingkungan dan budaya hanya mempunyai peranan minimal dalam kecerdasan. Dia telah melakukan beberapa penelitian tentang kecerdasan, di antaranya ada yang membandingkan tentang anak kembar yang berasal dari satu telur (identical twins) dan yang dari dua telur (fraternal twins). Identical twins memiliki genetik yang identik, karena itu kecerdasan (IQ) seharusnya sama. Fraternal twins pada anak sekandung genetiknya tidak sama karena itu IQ-nya pun tidak sama. Menurut Jensen bila pengaruh lingkungan lebih penting pada identical twins yang dibesarkan pada dua lingkungan yang berbeda, seharusnya menunjukkan IQ yang berbeda pula. Kajian terhadap hasil penelitian menunjukkan bahwa identical twins yang dibesarkan pada dua lingkungan yang berbeda korelasi rata-rata IQ-nya. 82. Dua saudara sekandung yang dipelihara pada dua lingkungan yang berbeda korelasi rata¬rata IQ-nya, 50.

2.3 Fase Perkembangan
Setiap orang berkembang dengan karakteristik tersendiri. Hampir sepanjang waktu perhatian kita tertuju pada keunikan masing-masing. Sebagai manusia, setiap orang melalui jalan-jalan yang umum. Setiap diri kita kmulai belajar pada usia satu tahun, berjalan pada usia dua tahun tenggelam pada permainan fantasi pada masa kanak-kanak dan belajar mandiri pada usia remaja.
Apakah yang dimaksud oleh para ahli psikologi dengan perkembangan individu? Menurut santrok dan Yussen (1992) perkembangan adalah gerakan atau perubahan yang dimulai pada saat terjadi pembuahan dan pertumbuhan. Pola gerakan itu kompleks karena merupakan hasil (produk) dari beberapa proses, proses biologi, proses kognitif dan proses sosial.
Perubahan pada perkembangan merupakan produk dari proses-proses biologis, kognitif dan sosial. Proses-proses itu terjadi pada perkembangan manusia yang berlangsung pada keseluruhan siklus hidupnya.
Untuk memudahkan pemahaman tentang perkembangan maka dilakukan pembagian berdasarkan waktu-waktu yang dilalui manusia dengan sebutan fase. Santrok dan Yussen membaginya atas lima yaitu: fase pranatal (saat dalam kandungan), fase bayi, fase kanak-kanak awal, fase anak akhir dan ada setiap fase untuk memperoleh lai dan berakhir.
1. Fase pra natal (saat dalam kandungan) adalah waktu yang terletak antara masa pembuahan dan masa kelahiran. Pada saat ini terjadi pertumbuhan yang luar biasa dari satu sel menjadi satu organisme yang lengkap dengan otak dan kemampuan berperilaku, dihasilkan dalam waktu lebih kurang sembilan bulan.
2. Fase bayi adalah saat perkembangan yang berlangsung sejak lahir sampai 18 atau 24 bulan. Masa ini adalah masa yang sangat bergantung kepada orang tua. Banyak kegiatan-kegiatan psikologis yang baru dimulai misalnya; bahasa, koordinasi sensori motor dan sosialisasi.
3. Fase kanak-kanak awal adalah fase perkembangan yang berlangsung sejak akhir masa bayi sampai 5 atau 6 tahun, kadang-kadang disebut masa pra sekolah. Selama fase ini mereka belajar melakukan sendiri banyak hal dan berkembang keterampilan-keterampilan yang berkaitan dengan kesiapan untuk bersekolah dan memanfaatkan waktu selama beberapa jam untuk bermain sendiri ataupun dengan temannya. Memasuki kelas satu SD menandai berakhirnya fase ini.
4. Fase kanak-kanak tengah dan akhir adalah fase perkembangan yang berlangsung sejak kira-kira umur 6 sampai 11 tahun, sama dengan masa usia sekolah dasar. Anak-anak menguasai keterampilan-keterampilan dasar membaca, menulis dan berhitung. Secara formal mereka mulai memasuki dunia yang lebih luas dengan budayanya. Pencapaian prestasi menjadi arah perhatian pada dunia anak, dan pengendalian diri sendiri bertambah pula.
5. Fase remaja adalah masa perkembangan yang merupakan transisi darl masa kanak-kanak ke masa dewasa awal, yang dimulai kira-kira umur 1 (sampai 12 tahun dan berakhir kira-kira umur 18 sampai 22 tahun Remaja mengalami perubahao-perubahan fisik yang sangat cepat perubahan perbandingan ukutan bagian-bagian badan, berkembangnyt karakteristik seksual seperti meobesarnya payudara, tumbuhnya rambul pada bagian tertentu dan perubihan suara. Pada fase ini dilakukan upaya¬upaya untuk mandiri dan pencarian identitas diri. Pemikirannya lebil logis, abstrak dan idealis. Seunkin lama banyak waktu dimanfaatkan d luar keluarga.

2.4 Pola-pola perkembangan afektif pada manusia
Seorang ahli teori psikoanalisa dna sekaligus seorang pendidik, Erik H. Erikson mengemukakan bahwa perkembangan manusia adalah sistesis dari tugas-tugas perkembangan dan tugas-tugas sosial. Teorinya itu kemudian diterbitkan sebagai bukunya yang pertama dengan judul Childhoard and Society. Dikemukakan pula bahwa perkembangan afektif merupakan dasar perkembangan manusia. Erikson memlahirkan teori perkembangan afektif yang terdiri atas delapan tahap.

1. Trust vs Mistrus/Kepercayaan dasar (0;0 -1;0)
Bayi yang kebutuhannya terpenuhi waktu ia bangun, keresahannya segera terhapus, selalu dibuai dan diperlakukan sebaik-baiknya, diajak main dan bicara, akan tumbuh perasaannya bahwa dunia ini tempat yang aman dengan orang-orang di sekitarnya yang selalu bersedia menolong dan dapat dijadikan tempat ia menggantungkan nasibnya. Jika pemeliharaan terhadap bayi itu tidak menetap, tidak memadai sebagaimana mestinya, serta terkandung di dalamnya sikap-sikap menolak, akan tumbuhlah pada bayi itu rasa takut serta ketidak-percayaan yang mendasar terhadap dunia sekelilingnya dan terhadap orang-orang di sekitarnya. Perasaan ini akan terus terbawa pada tingkat-tingkat perkembangan berikutnya.

2. Autonomy vs Shame and Doubt/Otonomi (1;0 - 3;0)
Pada tahap ini Erikson melihat munculnya autonomy: Dimensi autonomy ini timbulnya karena adanya kemampuan motoris dan mental anak. Pada saat ini bukan hanya berjalan, tetapi juga memanjat, menutup-membuka, menjatuhkan, menarik dan mendorong, memegang dan melepaskan. Anak sangat bangga dengan kemampuannya ini dan ia ingin melakukan banyak hal sendiri. Orang tua sebaiknya menyadari bahwa anak butuh melakukan sendiri hal-hal yang sesuai dengan kemampuannya menurut langkah dan waktunya sendiri. Anak kemudian akan mengembankan perasannya bahwa ia dapat mengendalikan otot-ototnya, dorong-dorongannya, serta mengendalikan diri dan lingkungannya.
Jika orang dewasa yang mengasuh dan membimbing anak tidak sabar dan selalu membantu mengerjakan segala sesuatu yang sesungguhnya dapat dikerjakannya sendiri oleh anak itu, maka akan tumbuh pada anak itu rasa malu-malu dan ragu-ragu. Orang tua yang terlalu melindungi dan selalu mencela hasil pekerjaan anak-anak, berarti telah memupuk rasa malu dan ragu yang berlebihan sehingga anak tidak dapat mengendalikan dunia dan dirinya sendiri.
Jika anak meninggalkan masa perkembangan ini dengan autonomi yang lebih kecil daripada rasa malu dan ragu, ia akan mengalami kesulitan untuk memperoleh autonomi pada. masa remaja dan masa dewasanya. Sebaliknya anak yang dapat melalui masa ini dengan adanya keseimbangan serta dapat mengatasi rasa malu dan ragu dengan rasa outonomus, maka ia sudah siap menghadapi siklus-siklus kehidupan berikutnya. Namun demikian keseimbangan yang diperoleh pada masa ini dapat berubah ke arah positif maupun negatif oleh peristiwa-peristiwa di masa selanjutnya.

3. Initiatives vs Guilt/Inisiatif (3;0 - 5;0)
Pada masa ini anak sudah menguasai badan dan geraknya. la dapat mengendarai sepeda roda tiga, dapat lari, memukul, memotong. Inisiatif anak akan lebih terdorong clan terpupuk bila orang tua memberi respons yang baik terhadap keinginan anak untuk bebas dalam melakukan kegiatan-kegiatan motoris sendiri clan bukan hanya bereaksi atau meniru anak-anak lain. Hal yang sama terjadi pada kemampuan anak untuk menggunakan bahasa dan kegiatan fantasi. Dimensi sosial pada tahap ini mempunyai dua ujung: inititive F4 guilt. Anak yang diberi kebebasan clan kesempatan untuk berinisiatif pada permainan motoris serta mendapat jawaban yang yang memadai dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya (intelectual inititive), maka inisiatifnya akan berkembang dengan pesat.

4. Industry vs Inferiority/Produktivitas (6;0 - 11;00)
Anak mulai mampu berpikir deduktif, bermain dan belajar menurut peraturan yang ada. Dimensi psikososial yang muncul pada masa ini adalah: sense of industry

Anak didorong untuk membuat, melakukan clan mengerjakan dengan benda-benda yang praktis, dan mengerjakannya sampai selesai sehingga menghasilkan sesuatu. Berdasarkan hasilnya mereka dihargai clan di mana perlu diberi hadiah. Dengan demikian rasa/sifat ingin menghasilkan sesuatu dapat dikembangkan.
Pada usia sekolah dasar ini dunia anak bukan hanya lingkungan rumah saja melainkan mencakup juga lembaga-lembaga lain yang mempunyai peranan penting dalam perkembangan individu. Pengalaman-pengalaman sekolah anak mempengaruhi industry clan inferiority anak. Anak dengan IQ 80 atau 90 akan mempunyai pengalaman sekolah yang kurang memuaskan walaupun sifat industri dipupuk dan dikembangkan di rumah. Ini dapat menimbulkan rasa inferiority (rasa tidak mampu). Keseimbangan industry dan inferiority bukan hanya bergantung kepada orang tuanya, tetapi dipengatvhi pula oleh orang-orang dewasa lain yang berhubungan dengan anak itu.

5. Identity vs Role Confusion/Identitas (12;0 - 18;0)
Pada saat ini anak sudah menuju kematangan fisik dan mental. la mempunyai perasaan-perasaan dan keinginan-keinginan baru sebagai akibat perubahan-perubahan tubuhnya. Pandangan dan pemikirannya tentang dunia sekelilingnya mengalami perkembangan. la mulai dapat berpikir tentang pikiran orang lain. la berpikir pula apa yang dipikirkan orang lain tentang dirinya. la mulai mengerti tentang keluarga yang ideal, agama dan masyarakat, yang dapat diperbandingkannya dengan apa yang dialaminya sendiri.
Menurut Erikson pada tahap ini dimensi interpersonal yang muncul adalah:


Pada masa ini remaja harus dapat mengintegrasikan apa yang telah dialami dan dipelajarinya tentang dirinya sebagai anak, siswa, teman, anggota pramuka, dan lain sebagainya menjadi suatu kesatuan sehingga menunjukkan kontinuitas dengan masa lalu dan siap menghadapi masa datang.
Peran orang tua yang pada masalalu berpengaruh secara langsung pada krisis perkembangan, maka pada masa ini pengaruhnya tidak langsung. Jika anak mencapai masa remaja dengan rasa terima kasih kepada orang tua, dengan penuh kepercayaan, mempunyai autonomy, berinisiatif, memiliki sifat-sifat industri, maka kesempatannya kepada ego indentiti sudah berkembang.

6. Intimacy vs IsolationlKeakraban (19;0 - 25;0)
Yang dimaksud dengan intimacy oleh Erikson selain hubungan antara suami istri adalah juga kemampuan untuk berbagai rasa dan memperhatikan orang lain. Pada tahap ini pun keberhasilan tidak bergantung secara langsung kepada orang tua. Jika intimacy ini tidak terdapat di antara sesama teman atau suami istri, menurut Erikson, akan terdapat apa yang disebut isolation, yakni kesendirian tanpa adanya orang lain untuk berbagai rasa dan saling memperhatikan.
7. Generavity vs Self AbsorptionlGenerasi Berikut (25;0 - 45;0)
Generativity berarti bahwa orang mulai memikirkan orang-orang lain di luar keluarganya sendiri, memikirkan generasi yang akan datang serta hakikat masyarakat dan dunia tempat generasi itu hidup. Generativity ini bukan hanya terdapat pada orang tua (ayah clan ibu), tetapi terdapat pula pada individu-individu yang secara aktif memikirkan kesejahteraan kaum muda serta benlsaha membuat tempat bekerja yang lebih baik untuk mereka hidup. Orang yang tidak berhasil mencapai generativity berarti ia berada dalam keadaan self absorption dengan hanya memutuskan perhatian kepada kebutuhan-kebutuhan dan kesenangan pribadinya saja.

8. Integrity vs Despair/Integritas (45;0...)
Pada tahap ini usaha-usaha yang pokok pada individu sudah mendekati kelengkapan, dan merupakan masa-masa untuk menikmati pergaulan dengan cucu-cucu. Integrity timbul dari kemampuan individu untuk melihat kembali kehidupannya yang lalu dengan kepuasan. Sedangkan kebalikannya adalah despair, yaitu keadaan di mana individu yang menengok ke belakang dan meninjau kembali kehidupannya masa lalu sebagai rangkaian kegagalan dan kehilangan arah, serta disadarinya bahwa jika ia memulai lagi sudah terlambat.
Perkembangan kognitif anak berlangsung secara teratur dan berurutes sesuai dengan perkembangan umurnya. Maka pengajaran harus direncanakm sedemikian rupa disesuaikan dengan perkembangan kecerdasan peserta didit.

2.5 Pola Perkembangan Kognitif Dari Jean Piaget
Perkembangan kognitif anak berlangsung secara teratur dan berurutes sesuai dengan perkembangan umurnya. Maka pengajaran harus direncanakm sedemikian rupa disesuaikan dengan perkembangan kecerdasan peserta didik.
Piaget mengemukakan proses anak sampai mampu berpikir seperti orang dewasa melalui empat tahap perkembangan, yakni:
1. Tahap sensori motor (0;0 - 2;0)
Kegiatan intelektual pada tahap ini hampir seluruhnya mencakup gejala yang diterima secara langsung melalui indra. Pada saat anak mencapai kematangan dan mulai memperoleh keterampilan berbahasa, mereka mengaplikasikannya dengan menerapkannya pada objek-objek yang nyata. Anak mulai memahami hubungan antara benda dengan nama yang diberikan kepada benda tersebut.
2. Tahap praoperasional (2;0 - 7;0)
Pada tahap ini perkembangan sangat pesat. Lambang-lambang bahasa yang dipergunakan untuk menunjukkan benda-benda nyata bertambah dengan pesatnya. Keputusan yang diambil hanya berdasarkan intuisi, bukannya berdasarkan analisis rasional. Anak biasanya mengambil kesimpulan dari sebagian kecil yang diketahuinya, dari suatu keseluruhan yang besar. Menurut pendapat mereka pesawat terbang adalah benda kecil yang berukuran 30 cm; karena hanya itulah yang nampak pada mereka saat mereka menengadah dan melihatnya terbang di angkasa.
3. Tahap operasional konkrit (7;0 -11;0)
Kemampuan berpikir logis muncul pada tahap ini. Mereka dapat berpikir secara sistematis untuk mencapai pemecahan masalah. Pada tahap ini permasalahan yang dihadapinya adalah permasalahan yang konkret.
Pada tahap ini anak akan menemui kesulitan bila diberi tugas sekolah yang menuntutnya untuk mencari sesuatu yang tersembunyi. Misalnya, anak sering kali menjadi frustasi bila disuruh mencari arti tersembunyi dari suatu kata dalam tulisan tertentu. Mereka menyukai soal-soal yang tersedia jawabannya.
Sebelum menekuni tugasnya membimbing dan mengajar, guru atau calon guru sebaiknya memahami teori Piaget atau ahli lainnya tentang pola-pola perkembangan kecerdasan peserta didik. Dengan demikian mereka memiliki landasan untuk mengembangkan harapan-harapan yang realistik mengenai perilaku peserta didiknya.

KESIMPULAN

Sebagian perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seseorang merupakan bagian dari pertumbuhan dan perkembangannya, sedangkan sebagian lagi dari perubahan-perubahan itu tidak ada kaitannya sama sekali.
Seifert dan Haffnung membendakan tiga tipe (domain) perkembangan yaitu:
Perkembangan fisik mencakup pertumbuhan biologis. Misalnya, pertumbuhan otak, otot, tulang serta penuaan dengan berkurangnya ketajaman pandangan mata dan berkurangnya kekuatan otot-otot.
Perkembangan kognitif mencakup perubahan-perubahan dalam berpikir, kemampuan berbahasa yang terjadi melalui proses belajar. Perkembangan psikososial berkaitan dengan perubahan-perubahan emosi dan identitas pribadi individu, yaitu bagaimana seseorang berhubungan dengan keluarga, teman-teman dan guru-gurunya. Ketiga domain tersebut pada kenyataannya saling berhubungan clan saling berpengaruh.
Sejak tahun 1980-an semakin diakui pengaruh keturunan terhadap perbedaan individu. Menurut Santrok (1992) semua aspek dalam perkembangan dipengaruhi oleh faktor genetik. Aspek-aspek yang paling banyak diteliti sehubungan dengan pengaruh genetik ini ialah kecerdasan dan temperamen.
Arthur Jensen (1969) melontarkan pendapatnya bahwa kecerdasan itu diwariskan, dengan pengaruh yang sangat minimal dari lingkungan dan budaya. Menurut Jensen pengaruh keturunan terhadap kecerdasan sebesar 80 persen, sedangkan menurut ahli lain sebesar 50 persen.
Temperamen adalah gaya perilaku atau karakteristik dalam merespons lingkungan. Ada bayi yang sangat aktif dengan menggerak¬gerakan tangan, kaki dan mulutnya dengan keras, ada pula yang lebih tentang. Ada bayi yang merespons orang lain dengan hangat, ada pula yang pasif dan acuh tidak acuh.
Menurut Thomas. & Chess (1991) ada tiga dasar temperamen yaitu yang mudah, yang sulit dan yang lambat untuk dibangkitkan. Beberapa ahli perkembangan berpendapat bahwa temperamen adalah karakteristik bayi yang baru lahir yang akan dibentuk dan dimodifikasi oleh pengalaman-pengalaman masa kecil yang ditemui dalam tingkungannya. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa terdapat interaksi antara keturunan dan lingkungan dalam terjadinya perkembangan.
Menurut Santrok dan Yussen (1992) perkembangan adalah pola gerakan atau perubahan yang dimulai sejak saat pembuahan clan berlangsung terus selama siklus kehidupan. Pola gerakan ini kompleks dan merupakan produk dari beberapa proses yaitu: biologis, kognitif dan sosial.
Pembagian waktu dalam perkembangan disebut fase-fase perkembangan. Santrok dan Yussen membaginya atas lima fase yaitu: fase pranatal (saat dalam kandungan); fase bayi (sejak lahir sampai umur 18 atau 24 bulan), fase kanak-kanak awal sampai umur 5 - 6 tahun, kadang-kadang disebut fase pra sekolah; fase kanak-kanak tengah dan akhir, sampai umur 11 tahun, sama dengan usia sekolah dasar terakhir
fase remaja yang merupakan transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa awal, antara umur 10/13 sampai 18/22 tahun.
Erik H. Erikson yang melahirkan teori perkembangan afektif mengemukakan bahwa perkembangan manusia adalah sintesis dari tugas-tugas perkembangan dan tugas-tugas sosial. Perkembangan afektif menurut Erikon terdiri dari delapan fase:
1. Trust vs, Mistrust/kepercayaan dasar (0;0 - 1;0)
2. Autonomy vs. Shame and Doubt/otonomi (1;0 - 3;0)
3. Initiative vs. Guilt/inisiatif (3;0 - 5;0)
4. Industry vs. Inferiority/produktivitas (5;0 - 11;0)
5. Identity vs. Role Confusion/identitas(12;0 - 18;0)
6. Intimacy vs. Isolation/keakraban (19;0 - 25;0)
7. Generativiy vs. Self Absorption/generasi berikut (2;5 - 45;0)
8. Integrity vs. Despair/integritas (45;0 ...)

Jean Piaget membagi perkembangan kognitif atas empat fase:
1. Sensor motorik (0;0 - 2;0)
2. Pra operasional (2;0 - 7;0)
3. Operasional konkret (7;0 - 11;0)
4. Operasional formal (11;0 - 15;0)
Robert J. Havighurst mengemukakan bahwa pada usia-usia tertentu seseorang harus mampu melakukan tugas-tugas perkembangan. Kemampuan merupakan keberhasilan yang memberikan kebahagiaan serta memberi jalan bagi tugas-tugas berikutnya, dan terdiri dari tugas perkembangan;
1. Masa kanak-kanak (usia bayi dan usia TK)
2. Masa anak (usia SD)
3. Masa remaja
4. Masa dewasa awal
5. Masa setengah baya
6. masa tua
Menurut Havighurst setiap tahap perkembangan individu harus sejalan dengan perkembangan aspek-aspek lainnya, yaitu fisik, psikis, emosional, moral dan sosial.

DAFTAR PUSTAKA

Abin Syamsudin Makmun, (1996) Psikologi Kependidikan. Bandung Penerbit Rosada karya
Bredekamp. S. (Ed.) (1992) Developing Appropriate Practice in Early Children Program Serving Children from Birth trough Age 8. Washington: NAEYC

0 komentar:

Post a Comment